Dahulu kala, sekitar 80 M, di kaki gunung Salak bagian Utara tersebutlah sebuah padepokan yang dihuni oleh puluhan Resi. Selain tempat tinggal, padepokan itu juga menjadi tempat bagi para pembesar di kerajaan Paran Siliwangi (cikal bakal kerajaan Taruma Negara dan Padjajaran) meminta masukan dan nasehat tentang urusan kenegaraan.
Peran para Resi jika diperbandingkan dengan kehidupan modern sekarang ini adalah seperti DPR. Ia menjalankan fungsi legislatif. Sedangkan yang menjalankan peran eksekutif adalah golongan pembesar yang biasa disebut Prabu. Ada satu lagi golongan yaitu Shanghyang. Para shanghyang adalah hakim yang menjalankan fungsi Yudikatif.
Singkatnya; Prabu, Resi dan Shaghyang adalah gambaran awal trias politika yang dicetuskan Montesque.
Suatu ketika, para Resi di kaki gunung Salak bagian utara kedatangan tamu agung pemimpin para Shanghyang, yaitu Shanghyang Nagandini. Sang Nagandini membawa tiga bayi mungil. Nagandini bermaksud menitipkan ketiga anaknya itu untuk dididik oleh para Resi yang bijaksana.
Para Resi menerima permintaan Nagandini dengan suka cita. Mereka pun membuat sebuah bak air dengan memahat batu untuk memandikan dan menyucikan ketiga anak itu. para Resi pun memberi nama ketiga anak itu; Taji Malela, Surya Kencana dan Balung Tunggal. Kelak ketiga anak itu akan menurunkan raja-raja yang berkuasa di tanah Sunda dalam naungan kerajaan Padjajaran.
Sementara Shanghyang Nagandini meninggalkan monumen pahatan Kudjang bagi ketiga anaknya. Kudjang adalah senjata khas rakyat Sunda yang mempunyai nilai filosofi transendental tinggi. Bahwa sebagian percaya bahwa bentuk Kudjang adalah pengejawantahan dari bentuk huruf Tuhan. Nilai filosofinya, siapa yang mencabut Kudjang maka dia akan ingat Tuhan dan urung menggunakan Kudjang sebagai senjata. Itulah mengapa Kudjang tidak pernah dikenal sebagai senjata, melainkan hanya sebuah status.
Batu Jolang adalah sebuah situs peninggalan nenek moyang orang Sunda dari tahun 80 M. Jolang berarti bak air (digunakan untuk memandikan ketiga bayi Nagandini). Sedangkan situs lainnya adalah tugu Kudjang yang dari bentuk pahatannya diperkirakan lebih tua dibandingkan dengan tugu Kudjang di situs Batu Tulis (Bogor).
Hingga kini, tidak banyak bukti historis yang bisa disajikan baik pemerintah (Dinas Pariwisata Sukabumi) maupun para arkeolog. Karena situs itu belum seksama ditelaah. Padahal melihat lokasinya, potensi situs itu sangat bagus untuk pariwisata. Belum lagi nilai filosofinya yang tinggi. Terbukti dari sepenggal cerita rakyat (folklore) di atas.
salam kami....
